Penyesalan seorang Ibu ( kisah nyata )

Diposting oleh Aris pada 16:56, 12-Mar-11 • Di: Cerita Motivasi Diri

Kisah nyata ini sengaja saya share agar kalian dapat mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

JANGAN BENCI AKU MAMA
Dua puluh tahun yang lalu saya
melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun
terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa
anak ini memang agak terbelakang.
Saya berniat memberikannya
kepada orang lain saja untuk
dijadikan budak atau pelayan.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun
kedua setelah Eric dilahirkan saya
pun melahirkan kembali seorang
anak perempuan yang cantik mungil.
Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica,
demikian juga Sam. Seringkali kami
mengajaknya pergi ke taman
hiburan dan membelikannya pakaian
anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel
pakaian butut. Sam berniat
membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih
penghematan uang keluarga. Sam
selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam
meninggal dunia. Eric sudah berumur
4 tahun kala itu. Keluarga kami
menjadi semakin miskin dengan
hutang
yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur
hidup. Saya pergi meninggalkan
kampung kelahiran saya beserta
Angelica. Eric yang sedang tertidur
lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah
gubuk setelah rumah kami laku
terjual untuk membayar hutang.
Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun..
telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak
tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah,
egois, dan tinggi hati, berubah sedikit
demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur
12 tahun dan kami menyekolahkan dia
di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric
dan tidak ada lagi yang
mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana
saya bermimpi tentang seorang
anak. Wajahnya agak tampan namun
tampak pucat sekali. Ia melihat ke
arah saya. Sambil tersenyum ia
berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada Mommy !” Setelah berkata demikian ia mulai
beranjak pergi, namun saya
menahannya, “Tunggu …, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu
anak manis ?” “Nama saya Elic, Tante. ” “Eric? Eric … Ya Tuhan! Kau benar- benar Eric ?” Saya langsung tersentak dan
bangun. Rasa bersalah, sesal dan
berbagai perasaan aneh lainnya
menerpa diri saya saat itu juga.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah
ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala
saya. Baru sekarang saya
menyadari betapa jahatnya
perbuatan saya dulu.Rasanya
seperti mau mati saja saat itu. Ya,
saya harus mati …, mati …, mati … Ketika tinggal seinchi jarak pisau
yang akan saya goreskan ke
pergelangan tangan, tiba-tiba
bayangan Eric melintas kembali di
pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan
menjemputmu Eric … Sore itu saya memarkir mobil biru
saya di samping sebuah gubuk, dan
Brad dengan pandangan heran
menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi ?” “Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya
menceritakan hal yang telah saya
lakukan dulu. ” tTpi aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak … Ternyata Tuhan sungguh baik kepada
saya. Ia telah memberikan suami
yang begitu baik dan penuh
pengertian. Setelah tangis saya
reda, saya keluar dari mobil diikuti
oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang
terbentang dua meter dari hadapan
saya. Saya mulai teringat betapa
gubuk itu pernah saya tinggali
beberapa bulan lamanya dan
Eric..Eric … Saya meninggalkan Eric di sana 10
tahun yang lalu. Dengan perasaan
sedih saya berlari menghampiri
gubuk tersebut dan membuka pintu
yang terbuat dari bambu itu. Gelap
sekali … Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai
terbiasa dengan kegelapan dalam
ruangan kecil itu.
Namun saya tidak menemukan
siapapun juga di dalamnya. Hanya
ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil
seraya mengamatinya dengan
seksama … Mata mulai berkaca- kaca, saya mengenali potongan kain
tersebut sebagai bekas baju butut
yang dulu dikenakan Eric sehari-
harinya … Beberapa saat kemudian, dengan
perasaan yang sulit dilukiskan, saya
pun keluar dari ruangan itu …. Air mata saya mengalir dengan deras.
Saat itu saya hanya diam saja.
Sesaat kemudian saya dan Brad
mulai menaiki mobil untuk
meninggalkan tempat tersebut.
Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat
kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah
orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua.
Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya
dengan suaranya yang parau.
“Heii …! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari ?!” Dengan memberanikan diri, saya pun
bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang
dulu tinggal di sini ?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!
Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu
sejak kamu meninggalkannya disini,
Eric terus menunggu ibunya dan
memanggil, ‘Mommy …, mommy !’ Karena tidak tega, saya terkadang
memberinya makan dan
mengajaknya tinggal bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan
hanya bekerja sebagai pemulung
sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan
secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun
hanya untuk menulis ini untukmu …” Saya pun membaca tulisan di kertas
itu … “Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi …? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah
Eric yang pergi saja, tapi Mommy
harus berjanji kalau Mommy tidak
akan marah lagi sama Eric. Bye,
Mom …” Saya menjerit histeris membaca
surat itu. “Bu, tolong katakan … katakan di mana ia sekarang? Saya
berjanji akan meyayanginya
sekarang! Saya tidak akan
meninggalkannya lagi, Bu! Tolong
katakan.. !!” Brad memeluk tubuh saya yang
bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di
belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat
kurus, ia sangat lemah. Hanya demi
menunggumu ia rela bertahan di
belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila
Mommy-nya datang, Mommy-nya
akan pergi lagi bila melihatnya ada di
dalam
sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang
gubuk ini … Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia
terus bersikeras menunggu Nyonya
di sana. ” Saya kemudian pingsan dan tidak
ingat apa-apa lagi.
(kisah nyata diIrlandia utara)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

7 tanggapan untuk "Penyesalan seorang Ibu ( kisah nyata )"

Edhovhie pada 19:20, 12-Mar-11

huhu.. Jadi sedih baca cerita itu.. Kalo saya nangis disini boleh enggak? ;(

Aris pada 17:20, 13-Mar-11

Boleh ko gan... Memang crita itu tragis bgt... Jangn di tiru y... Adegan berbahaya... Wkwkwkwk

Denip pada 20:30, 15-Okt-11

Q nangis. . .mirip dalam kehdupanku.q dibuang orangtuaku.dunia emang kejam

Wiyono pada 00:28, 12-Jan-12

good story

"RETJZA Andriansyah" pada 08:21, 21-Mei-12

Kisahnya Membwt q Menitikn air Mata ,ijinkn q Share ke FB.
thnks

Arief Newbie Symbianer's pada 08:39, 21-Mei-12

Wahhh seru bnget critanya....

boy menk menk pada 15:33, 22-Mei-12

Nasi ud mnjadi bubur.
smoga yg m'mbaca ni, dpt sadar dngan ap yg di sesali seorng, ibu d atas..
lhir ny, eric dngn ktrblkangan mental.
tu, bkan lh ke ingin'an ny.
tp, tu adlh uji'an dr yg maha kuasa.
krn di dlm hdup mnusia, tdk akn prnah lpas dr yg nma ny, ujian dan coba'an.
trgantng gmn cr kt mnsyukuri ny.
krn, manusia tdak ad yg smpurna, psti ad kekurangan ny, dn pasti ad klbi'an ny.
tks.

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar